Wednesday, June 13, 2012

Merangkai Doa Kecil dalam Perjalanan Imanku

KMK Budi Luhur mengadakan acara ziarah dan live in tahunan. Pada tahun ini daerah tempat tinggal yang dipilih oleh para panitia adalah desa Juwangi, Purwodadi. 

Pada tanggal 16 Mei 2012 pukul 15.00 beberapa peserta sudah ramai memenuhi sekre KMK yang terletak disamping gedung biru, ada yang nitip tas, makan pop mie, ngerumpi dan hanya heboh dengan barang bawaannya. Hujanpun turun begitu deras menemani sore penantian kami. 

Pukul 16.30 para panitia mulai sibuk mendata ulang peserta. Saya mendapatkan nametag saya dan disana tertulis nama saya, cicilia. Kami masuk kedalam bis, nama bisnya Symphony. Cukup bagus dan nyaman. Saat itu saya memilih duduk disamping Yulius dan Samantha, ya saya menjadi nyamuk diantara mereka. Hihihihi...

Pukul lima lewat 18 menit bus mulai jalan dari kampus Budi Luhur. Sebelum menempuh perjalanan yang akan terasa panjang kami berdoa bersama yang dipimpin oleh saya J.

Kami menempuh perjalanan yang panjang dan berhenti di beberapa rest area dan toilet karna di dalam bis tidak terdapat toilet. Akibatnya perjalanan kami lumayan terlambat dari yang sebelumnya di rencanakan.

Panitia berencana pukul 4 pagi sudah sampai di purwodadi dan kami dapat istirahat sebelum mengikuti kegiatan disana, namun ternyata kami baru tiba disana pukul 10 pagi. puji Tuhan tiba dengan selamat. Kami sampai pada sebuah wisma, wisma wana. Wana yang berarti hutan. Ya, letak wisma kami didaerah perhutani yang mengembangbiakan pohon jati, sejuk, tanpa polusi ibukota. Setelah tiba kami langsung bersiap siap dan sarapan pagi. kami harus bergegas karna pukul 10.30 kami harus datang ke misa kenaikan Isa Almasih.  


Karna saya tidak mau sampai terlambat menghadiri misa saya jalan duluan naik motor bersama Rani teman KMK saya dan Bangkit ( salah satu OMK St Michael yang mendapingi kami sepanjang acara) menuju kapel.

Khotbah di kapel pagi itu sangat menarik bagi saya, mengenai sikap kita dalam berorganisasi. Kalau seseorang berorganisasi tidak tulus dengan hati maka semua kegiatan tidak akan berlangsung dengan baik, karna tidak ada sukacita dan kasih dalam hati mereka. Kalau berorganisasi mementingkan egoisme sendiri maka organisasi akan menjadi hancur. Hal tersebut mengingatkan saya pada pentingnya bersikap dalam berorganisasi terutama organisasi/keluarga kecil KMK. 

Setelah selesai misa kira kira pukul 12.30 kami semua bergegas menuju tempat jalan salib kami yang pertama. Goa Maria Sendang Jati di Panadaran. Kami semua pergi ke Sendang Jati menggunakan 3 bis mini, angkutan kecil disana. Udaranya lumayan panas dan membuat kami semua bersauna di dalamnya. Jalan yang di tempuh pun cukup jauh, berkelak kelok dan cukup berayun ayun ketika melewati jalan yang masih berbatu batu tajam tapi ada keseruan tersendiri yang saya rasakan karna saya dapat melihat indahnya alam yang Ia ciptakan. 

Kira kira satu jam perjalanan kami tiba di Sendang Jati. Ya, diluar dugaan saya mengenai tempat Jalan Salib lainnya. Tempat ini sangat berbeda, bersatu langsung dengan Alam, kurang sentuhan tangan tangan arsitektur yang membuatnya indah tapi tetap terasa indah karna semua alami dan bersatu dengan alam, sehingga lebih terasa dekat dengan penciptanya. Kami dibagi dalam 4 kelompok jalan salib. Saya kelompok 4 yang menjadi kelompok terakhir.

Setelah selesai kira kira pukul 16.30 kami semua kembali ke Wisma Wana. Setelah tiba disana saya langsung membooking kamar mandi sebelum banyak yang mandi. Setelah mandi saya beristirahat sejenak merilekskan badan dari lelahnya acara sepanjang hari sejak kemarin lalu menyantap makan malam. 

Pukul 20,00 acara dimulai, kami semua berkumpul di aula wisma, disana terdapat bapak ronald pemilik dari wisma yang kami tempati sekaligus yang bertanggung jawab terhadap hutan di juwangi. Disana juga terdapat orang liturgi, Romo Ipeng dan Romo Carol, juga para OMK St. Michael. 

Acara pertama di buka oleh panitia. Kami semua mempersembahkan lagu Mars KMK yang diiringi keyboard oleh Yauhan. Lalu pihak liturgi Juwangi membawakan materi mengenai kepribadian. Satu materi yang saya ingat adalah manusia = pensil.  

Manusia itu ibarat sebuah pensil. Ada 5 pokok penting dan apabila kita berhasil menerapkannya maka kita akan merasakan damai dalam menjalani kehidupan ini. 

1. Pensil mampu menghasilkan karya yang indah,namun sebagai sebatang pensil,ada tangan yang senantiasa bekerja dan membimbing. Kita menyebutnya tangan Tuhan yang membimbing kita sesuai kehendakNya. 

2. Ketika pensil mulai tumpul pensil harus diraut. Pensil akan merasa sakit sedikit namun setelahnya ia akan menjadi lebih tajam. Begitu juga dengan kita. Kita harus menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan untuk menjadikan kita menjadi lebih baik. 

3. Ketika pensil salah ada penghapus yang dapat menghapus kesalahan yang dilakukan begitu pula dengan kita yang terkadang sering melakukan dosa lalu mohon ampun pada Bapa dan kembali lagi berkarya 

4. bagian yang terpenting dari sebatang pensil bukan bagian luarnya yang dari kayu,tapi bagian dalamnya yang dari grafit. Jadi yang terpentin dalam diri kita ada didalam hati nurani kita. 

5. Setiap goresan yang dilakukan akan meninggalkan bekas,begitu pula dengan apa yang kita lakukan dalam hidup. 

Acara selanjutnya diisi oleh pak Ronald. Beliau menceritakan kehidupan perhutani, sebagai manusia kita harus mencintai Alam karna Alam adalah ciptaan Allah. Beliau juga memberikan cuplikan bagaimana pentingnya air dalam kehidupan manusia dan bagaimana sikap kita dalam pelestarian alam khususnya menghargai air. Hal tersebut membuat saya semakin sadar bahwa alam ini perlu dijaga. 

Setelah pak Ronald selesai menyampaikan sambutannya giliran para Romo yang mengisi materi. Kami melakukan beberapa Ice breaking yang menyenangkan dan membuat seluruh peserta bergoyang.







Materi yang dibawakan oleh Romo sangat menarik hati saya. Pertama tama kami semua dibagi menjadi 8 kelompok. Kelompok ini akan terus bersama sampai besok hari. Setelah membuat satu kelompok kami berbaris dan duduk romo memulai dengan game pijet pijetan. Merilekskan badan yang capek seharian. Setelah itu Romo meminta perwakilan kelompok untuk maju kedepan. Kelompok saya memilih dito untuk maju kedepan. Saat didepan semua dibagikan telur tetapi ketika giliran kelompok saya mengambil telur ternyata telurnya kurang sehingga kami tidak kebagian. Satu kalimat yang romo ucapkan saat itu adalah

“Jangan kecewa karena kami terlambat mendapatkan telur, setiap hal terjadi pasti ada maksudnya. Yang terakhir belum tentu menjadi yang terakhir” Lalu beliau menunjuk saya “Saya kasih satu pertanyaan ya, kamu sering terlambat ya datang kuliah?” 



Lalu saya mengangguk dan mengataka “Iya”
“Itu sebabnya kelompokmu dapat telur terlambat” 

Jlebbb.. kok bisa tau. Haha saya sedikit penasaran. Ketika telur miliks kelompok saya datang kami semua dibriefing. Telur ini harus didoakan terlebih dahulu, setiap pribadi harus menyatakan ujud dari doakan dan didoakan pada telur tersebut. Telur itu harus selalu dibawa, setiap 5 menit sekali telur itu harus dipindah tangankan ke teman lain. Telur itu tidak boleh menganggur da n harus selalu dipegang, ketika saya ingin memulai mendoakan telur tersebut tiba tiba saja saya melihat keretakan pada telur kelompok saya. Wah kejadian buruk lagi. Saya lalu bilang pada romo dan Romo menukarkan telur saya dengan telur yang baru. Kami mulai berdoa bersama. Dan dengan penuh keyakinan dengan teguh dan percaya kami yakin bahwa telur ini akan kuat. Romo pun memberkati setiap kelompok.
Setelah itu panitia membagikan lilin kepada kami. Romo memulai dengan renungan penenang hati lalu menistruksikan bahwa kita harus menjaga lilin itu agar tidak padam, kita harus percaya dan berdoa atau menyanyi apa saja dan yakin bahwa api itu akan terus menyala. Sambil berbaris kami mulai berjalan keluar dan keliling wisma dengan api menyala. Kami harus menjaga api itu agar tetap menyala. Saya  dan kelompok saya berdoa Salam Maria sepanjang jalan dan kami dapat kembali ke wisma dengan api yang menyala dan tidak sekalipun mati. Setibanya di wisma romo bertanya kepada kelompok saya apakah lilin kami ada yang mati. Dan kami menjawab tidak. Lalu ia bertanya bagaimana perasaan ketika lilin tidak mati. Pastinya bangga. Banyak kelompok lain yang lilinnya ada yang mati beberapa. Puji Tuhan lilin kami selamat.


Setibanya di wisma kami masing masing kelompok diminta membuat lingkaran lalu duduk. Dengan lilin menyala Romo meninstruksikan kami untuk meneteskan lilin itu ketangan kiri. Lalu dengan hati hati dan takut saya mulai meneteskan lilin itu ke tangan kiri. Dengan menutup mata saya menahan sakit panasnya lilin itu menusuk kedalam kulit saya. Lalu Romo menjelaskan bahwa itu adalah rasa sakit  ketika kita melakukan pekerjaan yang sia sia, tidak berguna dan menyakiti diri sendri. Lalu Romo meminta kami meneteskan lagi ke tangan kanan. Walau sakit yang dirasakan hanya sebentar namun sakit itu begitu menusuk.
Malam berganti subuh. Berikutnya Romo meminta kami meneteskan lilin itu pada tangan kanan teman kami yang ada disebelah kiri. Bayangkan kita mengetahui sakitnya dan kita harus menyakiti orang yang tidak bersalah disamping kita dengan lilin itu. dengan meminta maaf sebelumnya saya meneteskan lilin itu pada teman saya, dan teman saya yang lain juga meneteskan itu pada tangan saya. Nyess.. panas, itu sama halnya ketika kita menyakiti orang lain.
Lalu lilin diambil dan kami semua harus menutup mata. Sambil berdoa bersama tiba tiba saja ada lilin yang menetes di tangan saya. Perih sangat perih. Bukan hanya setetes tetapi beberapa tetes. Itu adalah cobaan yang ada di hadapan kita yang datang kapanpun tanpa kita ketahui dan harapkan.
Setelah itu tibalah pada pengunjung acara dimalam itu yaitu menyebrangi laut merah. Dengan 2 buah papan dan sebuah tongkat kami diminta menyebrangi lautan, tanpa suara dan dengan kerjasama.


Setelah itu kira kira pukul 2.00 pagi acara sepanjang hari itu ditutup oleh doa dan kami pergi tidur. Sebelumnya Romo menjanjikan bahwa kami akan tidur berkualitas, walau hanya beberapa jam tapi kami akan bangun dengan badan yang bugar. Jam 2 kami pergi tidur dan kami harus bangun pukul 5 pagi. hanya 3 jam waktu kami untuk tidur.
Tanggal 18 Mei 2012 Pukul 5.00 pagi. Saya  bangun dengan sendirinya. Malam itu  saya tidur di aula bersama panitia lainnya. Pagi hari dijuwangi udaranya sangat menyenangkan sejuk dan bebas polusi pastinya. agak siang kami semua para gadis berjalan bersama sama ke sendang, sendang adalah sebuah permandian alami. Berkeliling tembok dan beratap langit sungguh klasik dan menyenangkan. Yaa walau was was juga takut tetangga sebelah para lelaki mengintip ketika kami sedang mandi. Tempatnya cukup luas untuk menampung kami semua dan konon siapa yang mandi disana akan awet muda :p hihihihi...


Setelah mandi dan sarapan kami semua mengikuti misa harian di rumah bapak ronald. Misa di pimpin oleh romo Karol dan musik dibawakan oleh Romo ipeng. Pada saat doa umat kami berdoa berdua dua. Seorang mendoakan temannya yang lain. Khotbah yang diberikan pagi itu juga sangat bagus.












Setelah misa kami berfoto bersama sebentar mengabadikan momen momen kebersamaan di rumah belanda berumur 100tahun.









to be continue...
by cicilia lestari


Friday, May 25, 2012

Cangkir Cantik

Cangkir Cantik


Sepasang opa dan oma pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik "Lihat cangkir itu," kata si oma kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si opa.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.

Tapi orang ini berkata "belum !" Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. Yak 1 : 2 - 4 "Saudara-saudaraKu, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa UJIAN terhadap IMANMU menghasilkan KETEKUNAN. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu MENJADI SEMPURNA dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Alllah sedang membentuk anda. Bentukan - bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk anda.

Monday, July 11, 2011

Be A Young Greener with 3H (Head, Hand and Heart)

Pelatihan Promotor Gerakan Lingkungan Hidup

 Apakah Anda:
  • Orang muda katolik berusia antara 17-30 tahun?
  • Memiliki kepedulian akan lingkungan hidup?
  • Menyukai kegiatan-kegiatan yang bertemakan lingkungan hidup?

Jika YA, yuk ikutan "Be A Young Greener with 3H (Head, Hand, and Heart)" bersama GROPESH (Gerakan Orang Muda Peduli Sampah).

Sabtu & Minggu - 23 s/d 24 Juli 2011
@Civita - Jl. Cimandiri 50 RT 004/05, Cipayung, Ciputat 15411

Biaya: Rp 100rb/orang
Termasuk penginapan, makan, snack dan souvenir menarik dari Gropesh.

Selain bisa berkenalan dengan teman-teman dengan kepedulian yang sama, kalian akan diajak untuk bisa lebih mengenal mengenai Global Warming, Habitus, pelatihan pengolahan sampah organik-non organik, juga akan mendapatkan pengarahan motivasi serta spiritual.

Bersama narasumber:
  • Romo Al. Andang L. Binawan SJ (Vikep KAJ)
  • Ayu Utami (Novelis, kurator, dan penggiat lingkungan hidup)
Dapatkan info lebih lengkap di paroki masing-masing atau email ke gropesh@gmail.com
 

Hubungi:
Dee 0856 186 5750
Maya 0852 155 71532
Valent 0899 988 9071
Stella 0815 1370 2008

Taruh Sampah Jadikan Berkah,
Gropesh

    Saturday, July 02, 2011

    Bibir Seorang Kristen

    Bibir Seorang Kristen


    Suatu masa hiduplah seekor singa yang liar dan buas. Setiap kali bertemu makhluk hidup lain dan terutama manusia pasti saja akan diterkam dan dilahap habis. Tulang-tulang yang keras sekalipun pasti akan remuk dan tak pernah tersisa oleh taringnya yang runcing. Suatu saat, ketika tahu bahwa orang kristen adalah orang-orang baik, maka berkatalah ia kepada teman-teman singa yang lain: 'Aku telah mendengar seruan di padang gurun, dan saya ingin bertobat. Saya pasti tak akan menggangu orang-orang kristen lagi. Saya akan membiarkan mereka tetap hidup, dan tak akan lagi menjadikan mereka santapan pemuas isi perutku.'

    Namun setelah lewat beberapa hari, seorang kristen lewat. Singa liar dan buas itu sekali lagi melahap orang itu. Seluruh bagian tubuh orang tersebut dimakan habis tak tersisa, kecuali bibirnya. Ia lalu dicemoohi teman-temannya: 'Bukankah engkau ingin bertobat dan berjanji tak akan menjadikan orang kristen sebagai santapan lezatmu?? Mengapa hari ini engkau justru sekali lagi membunuh seorang kristen?'

    Singa buas itu menjawab: 'Saya memang sudah berjanji untuk tidak menerkam orang kristen. Namun orang yang telah kumakan itu telah kucium sebelum diterkam. Ternyata sama sekali tak tercium aroma kekristenan, kecuali bibirnya saja. Karena itu bibirnya sajalah yang tidak kumakan.'

    ------------------------
    Setiap kebajikan harus diungkapkan lewat perbuatan nyata, dan bukannya
    cuman lewat kotbah yang berapi-api.

    Monday, June 27, 2011

    Manfaat Membaca Alkitab


    Seorang Kakek hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky (Amerika) dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.

    Suatu hari sang cucu bertanya, " Kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupa secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?" Dengan tenang sang Kakek mengambil keranjang tempat arang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, " Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air."

    Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi," Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, " Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang arang itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup," maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.

    Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi.

    Sambil terengah-engah ia berkata, " Lihat Kek, percuma!" " Jadi kamu pikir percuma?" Jawab kakek. Kakek berkata, " Lihatlah keranjangnya. " Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu TELAH BERUBAH dari keranjang arang yang tua kotor dan kini BERSIH LUAR DAN DALAM.

    "Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu MEMBACA ALKITAB. Kamu TIDAK BISA MEMAHAMI atau INGAT segalanya, tetapi KETIKA kamu MEMBACANYA LAGI, kamu AKAN BERUBAH, luar dalam. Itu adalah KARUNIA dari ALLAH di dalam hidup kita."
    Mazmur 119 : 9, 105

    Kisah Pohon Apel


    Si Pohon Apel Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
    Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
    Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
    Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
    Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali.. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
    Ini adalah cerita tentang kita semua… Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.